Penjelasan Tentang Ekonomi Makro beserta Permasalahannya

ilustrasi - ekonomi makro

Sipendik.com – Pada kesempatan kali ini sipendik akan mengulas Penjelasan Tentang Ekonomi Makro beserta Permasalahannya. Sebelum kita melangkah lebih lanjut tentang pembahasan pengertian ekonomi makro, tidak ada salahnya kita pahami dulu tentang dasar Ilmu ekonomi.
Pada dasarnya, ilmu ekonomi masuk ke dalam ilmu sosial karena aspek penelitian dan pembahasannya menyangkut masalah manusia dan aktivitasnya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Namun, dalam kenyataannya ilmu ekonomi ini tidak terlepas dari penggunaan ilmu matematika dan statistik. Berdasarkan lingkup kekhususannya, ilmu ekonomi terbagi dalam dua golongan, yakni Ilmu ekonomi Makro dan Ilmu Ekonomi Mikro. Apakah perbedaan ekonomi makro dan ekonomi mikro? Mari kita simak penjelasan berikut ini.

Pengertian Ekonomi Makro

Makro Ekonomi atau Ekonomi Makro adalah cabang ilmu ekonomi yang mempelajari prilaku dari unit-unit ekonomi individual,seperti: rumah tangga, perusahaan, dan struktur industri. Ekonomi mikro membahas tentang alokasi dan efisiensi sumber daya pasar. Jadi, pengertian ilmu ekonomi makro adalah ilmu ekonomi yang mengkhususkan untuk mempelajari perilaku masyarakat luas dalarn memenuhi kebutuhannya secara menyeluruh. Aspek analisisnya, antara lain, meliputi berbagai masalah yang berkaitan dengan:

  1. pendapatan nasional,
  2. investasi,
  3. kesernpatan kerja,
  4. inflasi, dan
  5. neraca pembayaran.

Dalam perkembangannya, ilmu ekonomi makro berkaitan pula dengan masalah ekonomi publik (negara), ekonomi moneter, ekonomi pembangunan, dan sebagainya.

Perbedaan Ekonomi Mikro dan Makro

Dilihat dari

Ekonomi Mikro

Ekonomi Makro

Harga

Harga ialah nilai dari suatu komoditas (barang tertentu saja) Harga adalah nilai dari komoditas secara agregat (keseluruhan)

Unit analisis

Pembahasan tentang kegiatan ekonomi secara individual. Contohnya permintaan dan dan penawaran, perilaku konsumen, perilaku produsen, pasar, penerimaan, biaya dan laba atau rugi perusahaan Pembahasan tentang kegiatan ekonomisecara keseluruhan. Contohnya pendapatan nasional, pertumbu8han ekonomi, inflasi, pengangguran, investasi dan kebijakan ekonomi.

Tujuan analisis

Lebih memfokuskan pada analisis tentang cara mengalokasikan sumber daya agar dapat dicapai kombinasi yang tepat. Lebih memfokuskan pada analisis tentang pengaruh kegiatan ekonomi terhadap perekonomian secara keseluruhan

Permasalahan Ekonomi Makro

  • Masalah Kemiskinan dan Pemerataan

Kemiskinan masih menjadi permasalahan klasik bangsa Indonesia, terbukti jumlah kemiskinan pada tahun 1996 mencapai 11.4 % atau sekitar 22,5 juta jiwa dari seluruh jumlah penduduk. Apalagi ketika masa krisis pada tahun 1997, kemiskinan bertambah hingga 23,5 % atau 47 juta jiwa.  Pada tahun 2000 mengalami penurunan kemiskinan menjadi 19% dari jumlah penduduk.

Dari segi distribusi pendapatan nasional, penduduk Indonesia berada dalam kemiskinan. Sebagian besar kekayaan banyak dimiliki kelompok berpenghasilan besar atau kelompok kaya Indonesia.

  • Krisis Nilai Tukar

Krisis mata uang yang telah mengguncang Negara-negara Asia pada awal tahun 1997, akhirnya menerpa perekonomian Indonesia. Nilai tukar rupiah yang semula dikaitkan dengan dolar AS secara tetap mulai diguncang spekulan yang menyebabkan keguncangan pada perekonomian yang juga sangat tergantung pada pinjaman luar negeri sector swasta. Pemerintah menghadapi krisis nilai tukar ini dengan melakukan intervensi di pasar untuk menyelamatkan cadangan devisayang semakin menyusut. Pemerintah menerapkan kebijakan nilai tukar yang mengambang bebas sebagai pengganti kebijakan nilai tukar yang mengambang terkendali.

  • Masalah Utang Luar Negeri

Kebijakan nilai tukar yang mengambang terkendali pada saat sebelum krisis ternyata menyimpan kekhawatiran. Depresiasi penurunan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terutama dolar ASyang relative tetap dari tahun ke tahun menyebabkan sebagian besar utang luar negeri tidak dilindungi dengan fasilitas lindung nilai (hedging) sehingga pada saat krisis nilai tukar terjadi dalam sekejap nilai utang tersebut membengkak. Pada tahun1997, besarnya utang luar negeri tercatat 63% dari PDB dan pada tahun 1998 melambung menjadi 152% dari PDB.
Untuk mengatasi ini, pemerintah melakukan penjadwalan ulang utang luar negeri dengan pihak peminjam. Pemerintah juga menggandeng lembaga-lembaga keuangan internasional untuk membantu menyelesaikan masalah ini.

  • Masalah Perbankan dan Kredit Macet

Besarnya utang luar negeri mengakibatkan permasalahan selanjutnya pada system perbankan. Banyak usaha yang macet karena meningkatnya beban utang mengakibatkan semakin banyaknya kredit yang macet sehingga beberapa bank mengalami kesulitan likuiditas. Kesulitan likuiditas makin parah ketika sebagian masyarakat kehilangan kepercayaannya terhadap sejumlah bank sehingga terjadi penarikan dana oleh masyarakat secarabesar-besaran (rush).

Goncangan yang terjadi pada system perbankan menimbulkan goncangan yang lebih besar pada system perbankan secara keseluruhan, sehingga perekonomian juga akan terseret ke jurang kehancuran. Alasan-alasan di atas menyebabkan pemerintah memutuskan untuk menyelamatkan bank-bank yang mengalami masalah likuiditas tersebut dengan memberikan bantuan likuiditas. Namun untuk mengendalikan laju inflasi, bank sentral harus menarik kembali uang tersebut melalui operasi pasar terbuka. Hal ini dilakukan dengan meningkatnya suku bunga SBI. Kebijakan ini kemudian menimbulkan dilema karena peningkatan suku bunga menyebabkan beban bagi para peminjam (debitor). Akibatnya tingkat kredit macet di system perbankan meningkat dengan pesat. Dilema semakin kompleks di saat system perbankan mencoba mempertahankan likuiditasyang mereka miliki dengan meningkatkan suku bungan simpanan melebihi suku bunga pinjaman sehingga mereka mengalami kerugian yang berakibat pengikisan modal yang mereka miliki.

  • Masalah Inflasi

Masalah inflasi yang terjadi di Indonesia tidak terlepas kaitannya dengan masalah krisis nilai tukar rupiah dan krisis perbankan yang selama ini terjadi. Pada tahun 2004 tingkat inflasi Indonesia pernah mencapai angka 10,5%. Ini terjadi karena harga barang-barang terus naik sebagai akibat dari dorongan permintaan yang tinggi. Tingginya laju inflasi tersebut jelas melebihi sasaran inflasi BI sehingga BI perlu melakukan pengetatan di bidang moneter. Pengetatan moneter tidak dapat dilakukan secara drastic dan berlebihan karena akan mengancam kelangsungan proses penyehatan perbankan dan program restrukturisasi perusahaan.

  • Pertumbuhan Ekonomi dan Pengangguran

Menurunnya kualitas pertumbuhan ekonomi tahun 2005-2006 tercermin dari anjloknya daya serap pertumbuhan ekonomi terhadap angkatan kerja. Bila di masa lalu setiap 1% pertumbuhan ekonomi mampu menciptakan lapangan kerja hingga 240 ribu maka pada 2005-2006 setiap pertumbuhan ekonomi hanya mampu menghasilkan 40-50 ribu lapangan kerja. Berkurangnya daya serap lapangan kerja berarti meningkatnya penduduk miskin dan tingkat pengangguran. Untuk menekan angka pengangguran dan kemiskinan, pemerintah perlu menyelamatkan industry-industri padat karya dan perbaikan irigasi bagi petani.

Begitulah sharing ilmu Penjelasan Tentang Ekonomi Makro beserta Permasalahannya, semoga memberikan manfaat bagi Anda para pembaca. Sekian

Diolah dari berbagai sumber

Tampilkan Komentar (1)

  • menurut saya tips and trik diwebsite ini sangat menarik apabila anda ingin menjadi mempelajari tentang finnace (Berinvestasi dengan baik)
    silahkan kunjungi website di bawah ini
    http://gi.gunadarma.ac.id/